Shakur Stevenson adalah salah satu nama paling bersinar dalam dunia tinju profesional saat ini. Petinju asal Amerika Serikat ini dikenal karena kecepatan, teknik bertahan yang luar biasa, serta gaya bertarung yang cerdas dan efisien. Di usia yang relatif muda, Stevenson telah mencetak prestasi gemilang dan menjelma menjadi salah satu juara dunia yang paling disegani di kelas ringan dan super bulu.
Awal Kehidupan dan Karier Amatir
Shakur Stevenson lahir pada 28 Juni 1997 di Newark, New Jersey, Amerika Serikat. Ia merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara dan dibesarkan oleh ibunya, Malikah Stevenson, setelah ayah kandungnya meninggalkan keluarga. Nama “Shakur” diambil dari mendiang rapper legendaris Tupac Shakur, yang menjadi inspirasi bagi sang ibu.
Ketertarikannya terhadap tinju mulai tumbuh sejak usia lima tahun. Ia kemudian dilatih oleh kakeknya, Wali Moses, yang menjadi sosok penting dalam karier tinjunya. Dari kecil, Stevenson menunjukkan bakat luar biasa dalam olahraga ini. Kedisiplinan dan kemampuannya membaca lawan di atas ring menjadikannya unggul dibandingkan petinju-petinju seusianya.
Karier amatirnya sangat impresif. Stevenson mencetak lebih dari 140 kemenangan dan hanya menelan sedikit kekalahan. Prestasi puncaknya di ranah amatir adalah ketika ia meraih medali perak di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, mewakili Amerika Serikat di kelas bantam. Meski gagal meraih emas setelah kalah tipis dari Robeisy Ramírez (Kuba), performa Stevenson di olimpiade tersebut menarik perhatian dunia tinju profesional.
Karier Profesional: Awal Gemilang
Setelah Olimpiade, Shakur Stevenson menandatangani kontrak profesional dengan Top Rank, promotor ternama yang juga menaungi nama besar seperti Manny Pacquiao dan Vasiliy Lomachenko. Debut profesionalnya berlangsung pada April 2017, dan ia langsung mencetak kemenangan TKO atas Edgar Brito.
Dengan gaya bertarung yang licin dan akurat, Stevenson cepat naik peringkat. Ia tak hanya mengandalkan kecepatan tangan dan kaki, tetapi juga kemampuan bertahan dan menghindar yang sangat efektif. Ia dikenal sebagai petinju “slick southpaw” — kidal dengan gaya bertahan yang membuat lawan frustrasi.
Pada Oktober 2019, Stevenson mendapatkan gelar juara dunia pertamanya di kelas bulu (featherweight) versi WBO setelah mengalahkan Joet Gonzalez secara mutlak. Kemenangan ini sangat spesial karena lawannya saat itu adalah mantan pacar dari saudari Stevenson, yang membuat duel semakin panas dan emosional.
Naik Kelas dan Dominasi
Setelah menjadi juara dunia di kelas bulu, Stevenson memutuskan untuk naik ke kelas super bulu (super featherweight) demi tantangan baru. Keputusannya terbukti tepat. Ia kembali menunjukkan dominasinya di kelas yang lebih tinggi.
Pada Oktober 2021, Stevenson merebut gelar WBO kelas super bulu setelah mengalahkan juara bertahan Jamel Herring secara TKO. Kemenangan ini mempertegas kualitas dan status Stevenson sebagai salah satu petinju terbaik pound-for-pound.
Tak puas hanya dengan satu gelar, pada April 2022 ia menantang Oscar Valdez, pemegang gelar WBC di kelas yang sama. Dalam pertarungan unifikasi tersebut, Stevenson tampil gemilang. Ia mengendalikan ritme pertandingan sejak ronde awal, membuat Valdez kesulitan mendaratkan pukulan bersih. Stevenson pun menang angka mutlak dan menjadi juara dunia unified di kelas super bulu.
Gaya Bertarung: Cerdas dan Sulit Disentuh
Salah satu kekuatan utama Shakur Stevenson adalah kecerdasan bertinju (ring IQ). Ia mampu membaca pola lawan, menjaga jarak dengan sempurna, dan menghindari pukulan sambil mencetak poin secara efektif. Ia bukan tipe petinju yang brutal atau agresif tanpa rencana, tetapi lebih memilih bermain efisien, meminimalkan risiko, dan menang secara teknis.
Gaya bertarung ini sering dibandingkan dengan Floyd Mayweather Jr., salah satu idola Stevenson. Seperti Mayweather, ia piawai memainkan footwork, mengandalkan jab, dan tak mudah tersentuh oleh lawan. Namun, beberapa kritik menyebutkan gaya Stevenson terlalu aman dan kurang atraktif, meskipun sangat efektif.
Perjalanan Menuju Kelas Ringan
Setelah menaklukkan kelas super bulu, Stevenson kembali naik kelas ke divisi ringan (lightweight), salah satu kelas tersibuk dan paling kompetitif di dunia tinju. Kelas ini dihuni oleh nama-nama besar seperti Devin Haney, Gervonta Davis, Vasiliy Lomachenko, dan lainnya.
Pada November 2023, Stevenson meraih gelar WBC kelas ringan setelah mengalahkan Edwin De Los Santos dalam pertarungan yang kontroversial. Meski menang angka mutlak, laga tersebut dianggap membosankan karena minim aksi dan terlalu banyak pertarungan teknis. Stevenson mendapat kritik karena dianggap terlalu pasif dan tidak memberikan pertarungan yang menarik bagi penonton.
Namun, dari sisi teknis, Stevenson tetap menunjukkan kelasnya. Ia berhasil mempertahankan rekor tak terkalahkan dan kini menjadi salah satu juara dunia tiga divisi yang sangat dihormati.
Rekor dan Prestasi
Per Juni 2025, rekor profesional Shakur Stevenson adalah:
-
Total pertarungan: 22
-
Menang: 22
-
KO/TKO: 10
-
Kalah: 0
Prestasi penting:
-
Juara Dunia Kelas Bulu (WBO)
-
Juara Dunia Kelas Super Bulu (WBO dan WBC)
-
Juara Dunia Kelas Ringan (WBC)
-
Peraih medali perak Olimpiade 2016
Tantangan ke Depan
Meski sudah menjadi juara dunia di tiga kelas berbeda, perjalanan Stevenson belum selesai. Ia masih menghadapi tantangan besar di kelas ringan, terutama dari nama-nama top seperti Gervonta Davis yang memiliki gaya bertarung eksplosif dan Devin Haney yang juga sangat teknis.
Pertarungan antara Stevenson vs Haney atau Davis diprediksi akan menjadi mega fight yang ditunggu-tunggu para penggemar tinju dunia. Untuk menjawab kritik atas gaya bertarungnya yang defensif, Stevenson mungkin perlu menunjukkan bahwa ia juga bisa tampil atraktif dan agresif jika diperlukan.
Selain itu, kemungkinan naik ke kelas super ringan (140 pon) juga menjadi wacana. Dengan fisik dan teknik yang dimilikinya, banyak yang percaya Stevenson bisa menantang siapa pun hingga dua kelas di atasnya. baca juga: Ryan “King” Garcia: Petinju Selebriti Digital Amerika Yang Berbakat
Shakur Stevenson adalah sosok fenomenal dalam dunia tinju modern. Dengan rekor tak terkalahkan, gelar juara di tiga kelas berbeda, serta kecerdasan bertinju yang luar biasa, ia menjadi salah satu petinju terbaik di generasinya. Meski kadang mendapat kritik karena gaya bertarung yang terlalu aman, tak ada yang bisa meragukan efektivitas dan kualitasnya di atas ring.
Di usianya yang masih muda, masa depan Stevenson masih panjang dan penuh potensi. Dengan pertandingan-pertandingan besar yang mungkin terjadi dalam waktu dekat, dunia tinju menantikan apakah Shakur Stevenson bisa mencatatkan namanya di jajaran legenda sejati olahraga ini.
